www.mjumani.net - Materi Prakarya dan Kewirausahaan Semester I (ganjil) untuk kelas XI Bab I membahas tentang kerajinan Bahan Lunak dan Wirausaha. Adapun gambaran singkat materi mengacu pada BSE Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Kemendikbud adalah sebagai berikut :
Produk kerajinan pada awalnya bertujuan untuk membuat barangbarang
fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau
kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia. Produk kerajinan tersebut berupa
peninggalan pada zaman batu: artefakartefak kapak dan perkakas, pada zaman
logam: nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti gelang,
kalung, dan cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara
ritual adat berbagai suku serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan
seperti penghormatan terhadap arwah nenek moyang.
Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan zaman,
konsep seni kerajinan terus berkembang, pembuatan karya kerajinan yang pada
awalnya untuk kepentingan fungsional, kini dalam perkembangannya mengalami
pergeseran orientasi ke arah nilai keindahan (estetis).
A. Produk Kerajinan dari Bahan Lunak
Produk kerajinan lebih banyak memanfaatkan bahan-bahan alam seperti tanah
liat, serat alam, kayu, bambu, kulit, logam, batu, rotan dan lain-lain. Ada
juga yang memanfaatkan bahan sintetis sebagai bahan kerajinan seperti limbah
kertas, plastik, karet. Pembuatan produk kerajinan di setiap daerah memiliki
jenis kerajinan lokal yang menjadi unggulan daerah. Misalnya, Kasongan (Daerah
Istimewa Yogyakarta), sumber daya alam yang banyak tersedia tanah liat,
kerajinan yang berkembang adalah kerajinan keramik. Palu (Sulawesi Tengah),
sumber daya alamnya banyak menghasilkan tanaman kayu hitam, kerajinan yang
berkembang berupa bentuk kerajinan kayu hitam. Kapuas (Kalimantan Tengah),
sumber daya alamnya banyak menghasilkan rotan dan getah nyatu sehingga
kerajinan yang berkembang adalah anyaman rotan dan getah nyatu. Secara umum,
jenis bahan dasar produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
produk kerajinan dari bahan lunak dan produk kerajinan dari bahan keras.
1. Pengertian Kerajinan dari Bahan Lunak
Kerajinan dari bahan lunak merupakan
produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat lunak, beberapa
bahan lunak yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan, yaitu seperti
berikut:
a. Bahan Lunak Alami
Bahan lunak alami adalah bahan lunak
yang diperolah dari alam sekitar dan cara pengolahannya juga secara alami tidak
dicampur maupun dikombinasi dengan bahan buatan. Contoh bahan lunak alami yang
kita kenal adalah tanah liat, serat alam, dan kulit.
b. Bahan Lunak Buatan
Bahan lunak buatan adalah bahan untuk
karya kerajinan yang diolah menjadi lunak. Beragam karya kerajinan dari bahan
lunak buatan dapat dibuat berdasarkan bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang
digunakan bisa berupa bubur kertas, gips, fiberglas, lilin, sabun, spons, dan
sebagainya.
2. Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Lunak
Produk kerajinan dari bahan lunak
sangat beragam, mulai dari karya kerajinan yang digunakan untuk kebutuhan
fungsi pakai dan karya kerajinan untuk hiasan. Berikut ini contoh produk
kerajinan dari bahan lunak:
a. Kerajinan Tanah Liat
Kerajinan yang terbuat dari bahan tanah liat sering dikenal orang dengan
kerajinan keramik. Kerajinan keramik adalah karya kerajinan yang menggunakan
bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit,
butsir, pilin, pembakaran dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda
pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, vas bunga, keramik.
b. Kerajinan Serat Alam
Bahan-bahan
serat alam dapat menghasilkan kerajinan tangan yang beraneka ragam, misalnya
tas, dompet, topi, alas meja, tempat lampu. Teknik pembuatan kerajinan dari serat
alam ini sebagian besar dibuat dengan cara menganyam.
c. Kerajinan Kulit
Kerajinan ini menggunakan bahan baku
dari kulit yang sudah di samak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya:
tas, sepatu, wayang, dompet, jaket. Kulit yang dihasilkan dari hewan seperti:
sapi, kambing, kerbau, dan buaya dapat dijadikan sebagai bahan dasar kerajinan.
d. Kerajinan Gips
Gips merupakan bahan mineral yang
tidak larut dengan air dalam waktu yang lama jika sudah menjadi padat.
Kandungan gips terdiri atas jenis zat hidrat kalsium sulfat dan beberapa
mineral seperti: karbonat, borat, nitrat, dan sulfat yang dapat terlepas
sehingga gips dalam proses pengerasan akan terasa panas. Prosesnya harus dicairkan
dahulu jika ingin bentuk seperti yang diinginkan, harus dibuat cetakan. Jika
akan diproduksi dalam jumlah banyak, harus dibuat model terlebih dahulu. Secara
umum, untuk semua produk gips diperlukan cetakan. Bahan utama pembuatan cetakan
adalah silicone rubber, tetapi yang paling gampang dan mudah dicari adalah
plastisin atau tanah liat. Fungsi kerajinan dari gips biasanya dapat berupa
hiasan dinding, mainan, dan sebagainya.
e. Kerajinan Lilin
Pembuatan kerajinan bahan dasar lilin
cukup sederhana dan mudah, dapat dilakukan oleh semua orang. Jika kita akan
mengubah bentuknya menjadi benda kerajinan yang unik, tentunya perlu dicairkan
dengan proses pemanasan di atas api/kompor. Berikut contoh kerajinan dari bahan
lilin.
f.
Kerajinan
Sabun
Kerajinan dari sabun sangat unik.
Bahan yang diperlukan adalah sabun batangan. Sabun dapat diolah dengan dua
cara. Pertama: mengukir sabun yang menghasilkan karya seperti: binatang, buah,
dan flora ukiran. Kedua, membentuk sabun, yaitu: sabun diparut hingga menjadi
bubuk, dicampur dengan sagu dan sedikit air, lalu dibuat adonan baru seperti
membuat bentuk dari plastisin. Berikut contoh produk kerajinan dari bahan
sabun.
g. Kerajinan Bubur Kertas
Sisa-sisa kertas dapat dimanfaatkan
untuk beraneka ragam karya kerajnan. Salah satu alternatif pemanfaatan
sisa-sisa kertas adalah dibuat bubur kertas untuk bahan berkarya kerajinan.
Proses pembuatan bubur kertas dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut
ini.
1. Siapkan kertas bekas, misalnya
kertas tisu atau kertas koran. Robek atau gunting menjadi potongan-potongan
kecil (lembut).
2. Masukkan potongan kertas ke dalam
baskom atau ember plastik. Kemudian, siram dengan air hangat.
3. Masukkan 1 sendok teh garam. Garam
bermanfaat untuk menghindarkan kertas menjadi busuk.
4. Potongan kertas yang telah direndam dan
diberi garam ini didiamkan selama 1 - 2 hari hingga menjadi lunak.
5. Dua hari kemudian atau setelah
kertas menjadi lunak dan hancur, saring menggunakan kain (dapat menggunakan
kain lap yang pori-porinya besar). Keempat tepi kain disatukan dan plintir.
hingga air akan terpisah dari ampasnya.
6. Buang air perasan kertas. Kemudian,
masukkan kembali potongan kertas-kertas yang sudah diperas airnya ke dalam
wadah dan remas-remas hingga hancur. Tambahkan sedikit air ketika meremasnya.
7. Buat larutan pasta dengan mencampur
2 sendok makan tepung kanji dengan air secukupnya. Apabila pasta terasa terlalu
cair, penggunaan tepung kanji dapat ditambah. Remas-remas hingga tercampur
merata dan didapat adonan bubur kertas yang liat sehingga mudah untuk dibentuk.
3. Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Lunak
Fungsi produk kerajinan dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi karya kerajinan sebagai benda pakai dan
fungsi karya kerajinan sebagai benda hias.
a. Karya Kerajinan sebagai Benda Pakai
Karya kerajinan sebagai benda pakai
meliputi segala bentuk kerajinan yang digunakan sebagai alat, wadah, atau
dikenakan sebagai pelengkap busana.Sebagai benda pakai, produk karya kerajinan
yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah
sebagai pendukung. Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda pakai.
b.
Karya Kerajinan sebagai Benda Hias
Karya kerajinan sebagai benda hias
meliputi segala bentuk kerajinan yang dibuat dengan tujuan untuk dipajang atau
digunakan sebagai hiasan atau elemen estetis. Jenis ini lebih menonjolkan aspek
keindahan daripada aspek kegunaan. Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda
hias.
4. Unsur Estetika dan Ergonomis Produk
Kerajinan dari Bahan Lunak
Pembuatan produk kerajinan harus
memperhatikan unsur estetika dan ergonomis.
a. Unsur Estetika Unsur estetika sering kita
kenal dengan istilah keindahan.
Keindahan adalah nilai-nilai estetis
yang menyertai sebuah karya seni. Keindahan juga diartikan sebagai pengalaman
estetis yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat pula
dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan.
Nilai-nilai keindahan (estetik) atau
keunikan karya seni memiliki prinsip: kesatuan (unity), keselarasan (harmoni),
keseimbangan (balance), dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan
haru, nyaman, nikmat, bahagia, agung, ataupun rasa senang.
b. Unsur Ergonomis
Unsur ergonomis karya kerajinan selalu
dikaitkan dengan aspek fungsi atau kegunaan. Adapun unsur ergonomis karya
kerajinan adalah seperti berikut:
1. Keamanan (security) yaitu jaminan
tentang keamanan orang menggunakan produk kerajinan tersebut.
2. Kenyamanan (comfortable), yaitu
kenyamanan apabila produk kerajinan tersebut digunakan. Barang yang enak
digunakan disebut barang terap. Produk kerajinan terapan adalah produk
kerajinan yang memiliki nilai praktis yang tinggi.
3. Keluwesan (flexibility), yaitu
keluwesan penggunaan. Produk kerajinan adalah produk terap/pakai, yaitu produk
kerajinan yang wujudnya sesuai dengan kegunaan atau terapannya. Produk
terap/pakai dipersyaratkan memberi kemudahan dan keluwesan penggunaan agar
pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.
5.
Motif Ragam Hias pada Produk Kerajinan dari
Bahan Lunak
Indonesia sangat kaya dengan keragaman
produk kerajinan dengan berbagai macam ragam hias yang tersebar diseluruh tanah
air. Ragam hias Nusantara pada umumnya memiliki muatan nilai tradisi dengan
kekhasan dan keragamannya masing-masing. Di samping perbedaan-perbedaan
terdapat pula persamaan-persamaannya, misalnya jenis, bentuk, motif hias, pola
susunan, pewarnaan, bahkan nilai simbolisnya. Berbagai motif ragam hias yang
dapat digunakan untuk menghias karya kerajinan antara lain seperti berikut.
a. Motif Realis
Motif realis ialah motif yang dibuat
berdasarkan bentuk-bentuk nyata yang ada di alam sekitar seperti bentuk tumbuh-tumbuhan,
bentuk hewan atau binatang, bentuk batu-batuan, bentuk awan, matahari, bintang,
bentuk pemandangan alam.
b. Motif Geometris
Motif geometris ialah motif yang
mempunyai bentuk teratur dan dapat diukur menggunakan alat ukur. Contoh: bentuk
segi empat, segitiga, lingkaran, kerucut, dan silinder. Motif geometris merupakan
motif tertua dalam ragam hias karena sudah dikenal sejak zaman prasejarah.
Motif geometris berkembang dari bentuk titik, garis, atau bidang yang berulang
dari yang sederhana sampai dengan pola yang rumit. Hampir di seluruh wilayah
Nusantara ditemukan motif ini. Motif hias geometris antara lain meander, pilin,
lereng, banji, kawung, jlamprang, dan tumpal.
c. Motif Dekoratif
Pengertian dekoratif adalah menggambar
dengan tujuan mengolah suatu permukaan benda menjadi lebih indah. Gambar
dekoratif berupa gambar hiasan yang perwujudannya tampak rata, kesan ruang
jarak jauh dekat atau gelap terang tidak terlalu ditonjolkan. Untuk memperoleh
objek gambar dekoratif, perlu dilakukan deformasi atau penstiliran alami.
Bentuk-bentuk objek di alam disederhanakan dan digayakan tanpa meninggalkan
bentuk aslinya. Misalnya, bunga, hewan, tumbuhan yang digayakan. Kesan tentang
bunga, hewan, tumbuhan harus masih ada pada motif itu.
d. Motif Abstrak
Motif abstrak merupakan motif yang
tidak dikenali kembali objek asal yang digambarkan atau memang benar-benar
abstrak karena tidak menggambarkan objek-objek yang terdapat di alam maupun
objek khayalan gubahan objek alam serta tidak menggunakan unsur tulisan yang
terbaca. Motif abstrak di sini menggunakan bentuk yang lebih bebas, bukan
geometris.
6. Teknik Pembuatan Produk Kerajinan dari
Bahan Lunak
Ada beberapa teknik pembuatan produk
kerajinan dari bahan lunak. Teknik tersebut disesuaikan dengan bahan yang
digunakan. Adapun teknik yang dapat digunakan untuk membuat karya kerajinan
dari bahan lunak antara lain membentuk, menganyam, menenun, dan mengukir.
a. Membentuk
Teknik membentuk biasanya
digunakan untuk membuat karya kerajinan dari tanah liat. Macam-macam teknik
membentuk antara lain seperti berikut.
1) Teknik Coil (Lilit Pilin)
Cara pembentukan dengan tangan
langsung seperti coil, lempengan atau pijat jari merupakan teknik pembentukan
tanah liat yang bebas untuk membuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Bentuknya
tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai oleh para seniman dan perajin
keramik.
2)
Teknik
Putar
Teknik pembentukan dengan alat putar
dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris (bulat, silindris) dan
bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini sering dipakai oleh para perajin
keramik. Perajin keramik tradisional biasanya menggunakan alat putar tangan
(hand wheel) atau alat putar kaki (kick wheel). Para perajin bekerja di atas
alat putar dan menghasilkan bentuk-bentuk yang sama seperti gentong dan guci.
3) Teknik Cetak
Ada dua teknik pembentukan karya
kerajinan dari bahan lunak yaitu: sekali cetak (cire verdue), dan cetak
berulang. Teknik sekali cetak ialah teknik cetak yang menghasilkan sekali
cetakan dan tidak dapat diperbanyak. Teknik cetak berulang (bi valve), ialah teknik
mencetak yang dapat memproduksi karya dengan jumlah yang banyak dengan bentuk
dan ukuran yang sama. Bahan cetakan yang biasa dipakai adalah gips, seperti
untuk cetakan berongga, cetakan padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk
dekorasi tempel. Cara ini digunakan pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi
massal, seperti alat alat rumah tangga: piring, cangkir, mangkok, dan gelas.
b. Menganyam
Teknik menganyam
dapat digunakan untuk pembuatan karya kerajinan dari bahan lunak dengan
karakteristik tertentu. Bahan baku yang digunakan untuk membuat karya kerajinan
dengan teknik menganyam ini berasal dari berbagai tumbuhan yang diambil
seratnya, seperti rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon
pisang, enceng gondok. Contoh karya kerajinan dengan teknik menganyam:
keranjang, tikar, topi, dan tas.
c. Menenun
Teknik menenun
pada dasarnya hampir sama dengan teknik menganyam, perbedaannya hanya pada alat
yang digunakan. Untuk anyaman, kita cukup melakukannya dengan tangan (manual)
dan hampir tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan pada kerajinan menenun kita
menggunakan alat yang disebut lungsin dan pakan. Pada beberapa daerah di
wilayah Nusantara terdapat kesamaan teknik namun berbeda dalam ragam hiasnya.
Hal inilah yang menjadi ciri khas dari suatu daerah dengan daerah lain.
Misalnya kain ulos dari Batak, Kain tapis dari Lampung, kain torso dari Jepara,
dan kain songket yang dibuat di Sumatra, Bali, Kalimantan dan Sumbawa.
d. Membordir
Ketika memakai
pakaian, hal yang perlu diperhatikan selain mempertimbangkan aspek kegunaan dan
kenyamanan, perlu juga diperhatikan aspek keindahannnya. Salah satu yang dapat
ditonjolkan dari pakaian dan kebutuhan sandang lainnya adalah hiasannya. Di
samping batik, penerapan motif atau ragam hias pada pakaian dapat juga
diterapkan dengan bordir. Bordir merupakan hiasan dari benang pada kain.
Istilah lain yang hampir sama dengan bordir adalah sulam.
e. Mengukir
Teknik mengukir adalah kegiatan menggores,
memahat, dan menoreh pola pada permukaan benda yang diukir. Dilihat dari
jenisnya, ada beberapa jenis ukiran antara lain ukiran tembus (krawangan),
ukiran rendah, ukiran tinggi (timbul), dan ukiran utuh. Pada umumnya, teknik
mengukir diterapkan pada bahan kayu. Namun, teknik ini dapat pula diterapkan
pada bahan lunak seperti sabun padat dan lilin.
Download Buku Prakarya dan Kewirausahaan Kelas XI semester 1 (BSE)